Biaya Bisnis

Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Di Kondisi Normal

“Dapat dikatakan kalau investasi dana pendidikan memang harus dipaksakan dan sebaiknya tidak ditunda-tunda,” tambahnya. Banyaknya pengeluaran sehari-hari dan juga persiapan untuk masa depan membuat setiap pasangan harus pintar-pintar dalam mengatur keuangan rumah tangga. Kinerja ekspor dan impor juga mengalami lonjakan tajam, masing-masing tumbuh 31,78% dan 31,22%, sejalan dengan momentum menguatnya kinerja ekonomi international dan meningkatnya harga komoditas.

Keuangan yang stabil

Terkelolanya kurs rupiah didukung oleh upaya stabilisasi untuk mengurangi volatilitas baik di pasar valas maupun pasar SBN. Para pelaku UMKM masih perlu mendorong pemanfaatan ekosistem digital di tengah pesatnya laju digitalisasi ekonomi keuangan. Tercatat 26,2 persen UMKM aktif memanfaatkan e-commerce dan 6,1 persen UMKM memperoleh pinjaman dari fintech .

Sistem pembayaran yang bermasalah pada akhirnya dapat menyebabkan instabilitas sistem keuangan, begitu pula gejolak sistem keuangan dapat menghambat kelancaran sistem pembayaran. Keterkaitan inilah yang melatarbelakangi kepentingan Bank Indonesia untuk selalu berupaya menjaga SSK di Indonesia. Fatin menuturkan bahwa Indonesia dalam melakukan pengukuran stabilitas sistem keuangan menggunakan dua indikator, yaitu mikroprudensial dan makroprudensial. Kebijakan makroprudensial dan mikroprudensial yang dikeluarkan oleh BI sangat berperan penting dalam menjaga Stabilitas Sistem Keuangan .

Pemateri kedua Abdurohman, S.E., M.Sc., Ph.D, fokus pada pembahasan mengenai kebijakan dan kinerja makroekonomi nasional dalam merespon pandemi Covid-19. Beliau menjelaskan tentang kebijakan terpadu dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi untuk dunia usaha, yang meliputi kebijakan insentif fiskal, kebijakan moneter, kebijakan prudensial sektor keuangan, kebijakan penjaminan simpanan, dan kebijakan penguatan struktural. Yang pertama adalah sistem keuangan yang stabil akan dapat membentuk pasar yang sehat, terkontrol dan alokasi dari berbagai sumber daya yang ada dapat dikondisikan secara optimum.

Bukti yang ada menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan disiplin pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang kokoh. Sementara itu, upaya penegakan hukum dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan. Untuk menciptakan stabilitas di sektor perbankan secara berkelanjutan, Bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan rencana implementasi Basel II.

Jakarta – Ekonom Ryan Kiryanto menilai, pada 2021 perkembangan stabilitas sektor keuangan masih akan stabil. Hal tersebut tercermin hingga November 2020 yang masih menunjukkan kondisi yang positif dengan profil risiko tetap terjaga. Stabilitas yang terjaga tercermin dari pasar keuangan yang relatif stabil serta ketahanan perbankan yang tetap terjaga, baik dari sisi permodalan, likuiditas, maupun profitabilitas. Stabilitas sistem keuangan Indonesia dapat terjaga di tengah tekanan pandemi COVID-19 sepanjang 2020.

Oleh karena itu, diperlukan perangkat hukum yang memadai untuk memberikan landasan yang kuat bagi Pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk pengambilan kebijakan dan langkah-langkah dimaksud. KSSK akan terus mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan Indonesia dan prospek perekonomian ke depan. Di sisi world, risiko tersebut antara lain terkait dengan dampak normalisasi kebijakan moneter negara maju, ekspektasi pasar atas kenaikan Fed Funds Rate yang lebih agresif, perang dagang antara AS dengan Tiongkok, perkembangan harga minyak global, dan instabilitas geopolitik. Di sisi domestik, risiko yang terus dicermati antara lain terkait perkembangan nilai tukar serta dampaknya terhadap stabilitas perekonomian dan momentum pemulihan ekonomi yang sedang berjalan. OJK juga terus berkomitmen untuk mengeluarkan kebijakan yang dibutuhkan pelaku industri jasa keuangan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional sekaligus tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Realisasi PDB pada triwulan II 2021 tercatat 7,07% , meningkat tajam dari kontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 0,71% .